Tambak Tradisional Kaltara Jadi Keunggulan, Produk Perikanan Minim Intervensi

Kepala Balai Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (BPPMHKP) Tarakan, Piyan Gustaffiana.

TERASKALTARA.ID, TARAKAN — Di tengah tren budidaya perikanan yang semakin mengarah pada sistem intensif, Kalimantan Utara justru memiliki keunggulan dari pola tambak tradisional yang masih banyak dipertahankan. Kondisi alam yang mendukung membuat pembudidaya relatif minim menggunakan pakan tambahan, bahan kimia hingga antibiotik.

Kepala Balai Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (BPPMHKP) Tarakan, Piyan Gustaffiana mengatakan, karakter budidaya di Kaltara berbeda dengan sejumlah daerah yang telah menerapkan sistem intensif.

Menurutnya, kondisi lingkungan yang masih baik memungkinkan komoditas seperti udang dan bandeng tumbuh dengan mengandalkan produktivitas alami tambak.

“Alhamdulillah ini Tarakan masih sangat alami. Salah satunya yang terbaik di Indonesia. Budidayanya masih belum intensif karena alamnya memang masih mendukung,” kata Piyan.

Ia menilai pola budidaya tersebut justru menjadi nilai tambah tersendiri bagi produk perikanan Kaltara. Minimnya penggunaan pakan tambahan maupun antibiotik membuat komoditas yang dihasilkan memiliki karakter yang berbeda dibanding produk dari budidaya intensif.

“Kalau teman-teman lihat di tambak, di sini ditebar tidak usah diberi pakan pun bisa tumbuh. Itu yang paling dicari karena belum ada campuran antibiotik dari pakan. Produk seperti ini justru memiliki nilai tersendiri,” ujarnya.

Piyan menjelaskan sebagian besar tambak di Kaltara masih masuk kategori ekstensif atau tradisional. Intervensi terhadap proses produksi belum terlalu besar sehingga penggunaan bahan-bahan kimia juga relatif terbatas.

“Di sini masih masuk kategori ekstensif atau tradisional sehingga belum terlalu banyak sentuhan atau modifikasi yang membutuhkan bahan-bahan kimia. Karena itu komoditasnya menjadi unggul dibanding daerah yang budidayanya sudah lebih intensif,” jelasnya.

Untuk komoditas tambak, udang dan bandeng masih menjadi hasil budidaya yang paling dominan. Selain itu, berbagai jenis ikan juga dibudidayakan masyarakat di wilayah pesisir maupun perairan darat.

“Kalau di Tarakan, komoditas unggulannya masih udang, kemudian bandeng. Itu yang paling banyak dari budidaya tambak,” tuturnya.

Meski kondisi alam menjadi salah satu keunggulan, Piyan mengingatkan kualitas komoditas tidak cukup hanya mengandalkan lingkungan yang masih baik. Tata kelola tambak juga perlu diperbaiki agar potensi tersebut dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Salah satu persoalan yang masih ditemukan adalah tata letak tambak yang belum sepenuhnya memenuhi kaidah budidaya yang baik. Pada sejumlah lokasi, saluran pemasukan dan pembuangan air masih menggunakan jalur yang sama.

Keterbatasan biaya penyediaan sarana pendukung serta minimnya pelatihan bagi pembudidaya juga menjadi tantangan dalam meningkatkan standar pengelolaan tambak.

“Kalau nanti dilakukan penerapan budidaya yang baik, wilayah-wilayah budidaya itu harus dipetakan. Tata letaknya juga harus diperhatikan supaya pengelolaannya sesuai dengan standar yang dipersyaratkan,” katanya.

BPPMHKP Tarakan, lanjut Piyan, tidak hanya mengawasi mutu ikan hasil tangkapan. Pengawasan dan pendampingan juga dilakukan sejak sektor budidaya karena kualitas komoditas perikanan sangat dipengaruhi proses produksi dari hulu.

“Perhatian kami itu mulai dari hulu sampai tahap produksi perikanan. Bukan hanya ikan hasil tangkapan, tetapi juga ikan yang dibudidayakan, baik di perairan laut maupun perairan darat. Semua menjadi bagian yang kami kawal agar mutunya tetap terjaga,” ujarnya.

Menurut Piyan, penerapan budidaya yang baik secara bertahap penting dilakukan tanpa menghilangkan karakter alami yang selama ini menjadi keunggulan Kaltara. Dengan tata kelola yang lebih baik, kualitas hasil tambak diharapkan tetap terjaga sekaligus memiliki daya saing lebih tinggi.

“Pelaku usaha tentu akan kami dampingi. Harapannya mereka dapat menerapkan budidaya yang baik secara konsisten sehingga mutu hasil perikanan tetap terjaga dan potensi perikanan Kalimantan Utara bisa terus berkembang,” pungkasnya.

Pos terkait